Rendahnya Kualitas Kerja Orang Indonesia, Ini Kata Psikolog

Jakarta – Surabaya – Banyak pekerja di Indonesia masih belum mendapatkan kualitas kehidupan kerja yang baik. Namun banyak yang tidak menyadari jika faktor mendasarnya ada pada organisasi atau perusahaan di mana ia bernaung.

Sebab perlu digaribawahi, kualitas kehidupan kerja dipandang mampu untuk meningkatkan peran serta dan sumbangsih pekerja atau anggota terhadap suatu organisasi.

Salah satu psikolog dari Himpunan Psikolog (HIMPSI) Jatim, Oliviea Prabandini Mulyana pun mengingatkan, setiap pekerja berisiko terpapar stres karena kualitas kerjanya yang belum baik, bahkan pada orang-orang yang memiliki posisi tinggi di tempat kerjanya.

“Orang-orang yang sudah memiliki posisi yang tinggi resign dan mencari pekerjaan di tempat lain. Bukan untuk mengejar gaji, tetapi mereka merasa tidak memiliki waktu bersama keluarga ataupun teman. Ini memicu tekanan bagi kehidupannya,” jelasnya dalam acara Millenials Wellness Day di Surabaya beberapa waktu lalu.

Ditegaskan Oliviea, rendahnya kualitas kerja memang dapat menimbulkan gangguan pada berbagai aspek kehidupan.

“Banyak sekali akibat dari kurangnya kualitas kerja yang baik ini seperti kesehatan fisik terganggu, waktu bersama keluarga berkurang, pekerjaan kacau, dan fokus hubungan relasi gagal,” ungkapnya.

Orang-orang yang sudah memiliki posisi yang tinggi resign dan mencari pekerjaan di tempat lain. Bukan untuk mengejar gaji, tetapi mereka merasa tidak memiliki waktu bersama keluarga ataupun teman. Ini memicu tekanan bagi kehidupannya,Oliviea Prabandini Mulyana, Psikolog Himpunan Psikolog (HIMPSI) Jatim

Untuk itu, terjadi pergeseran minat di kalangan pekerja untuk bagaimana caranya mencari perusahaan yang memiliki kebijakan dan sistem kerja yang bisa membuat mereka nyaman. Namun Oliviea mengingatkan, ketika sudah menemukan perusahaan yang bikin nyaman, tak serta-merta kualitas kerja membaik atau meningkat. Ada saja yang masih merasa kehidupannya tidak seimbang.

“Saat itulah kita membuat listnya, kita atur mana yang penting dan untuk apa. Kenali diri sendiri, tentukan tujuan, atur prioritas dan kelola waktu dengan baik,” pesan Oliviea.

Oliviea menambahkan, jangan berkecil hati ketika hal-hal itu sudah dilakukan namun masih terasa ada kehampaan dalam hidup.

“Kenapa yang kita lakukan gagal dan gagal lagi. Itu tidak hanya kamu, tapi semuanya pernah mengalami. Kalau misalnya seperti itu kita tinjau dulu, apakah yang dilakukan sudah betul. Ditinjau lagi tahapan prosesnya seperti apa,” papar Oliviea.

Diakui Oliviea, menjadi orang dewasa memang tidak mudah. Hal lain yang juga perlu dimiliki oleh orang dewasa adalah kontrol diri terhadap kehidupan.

“Orang dewasa harus memiliki kontrol diri, mana yang harus dilakukan, mana yang tidak. Kalau kita melakukan suatu hal tapi lingkungan tidak melakukan hal yang sama, kita akan gelisah. Jadi sebaik mungkin harus mengontrol diri kita sendiri. Karena yang mengetahui itu semua hanya diri kita,” pungkasnya.

(lll/fds)