Disuntik Rp 5 T, BPJS Kesehatan Cari Cara Lain Tutupi Sisa Devisit Rp 16,5 T

Jakarta – BPJS Kesehatan mencari cara lain menutupi sisa devisi Rp 16,5 triliun, setelah mendapat suntikan dana talangan Rp 5 triliun dari Kementerian Keuangan. Kini BPJS Kesehatan masih mencari cara lain untuk menutupi devisit, salah satunya dari pajak cukai rokok.

“Suntikan dana tambahan, kemarin Bu Menteri Keungan sudah menyuntikan dana tambahan hampir Rp 5 triliun,” kata Fachmi usai menemui JK di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (11/10/2018).

Dana talangan yang diberikan ke BPJS tersebut kini sudah habis terpakai. “Sekitar Rp 16,5 T kita sedang mencari jalan dengan bauran pajak rokok, bagaimana memitigasi bagaimana caranya potensi mitigasi atas fraud. Kemudian mengatur rujukan yang berjenjang kita atur dengan jalan yang baik,” jelas Fachmi.


BPJS juga akan bekerjasama dengan badan penjamin lainnya di sektor formal. Di antaranya dengan ketenagakerjaan PNS lewat program dari lembaga lainnya.

“Nah termasuk potensi peran pemda. Kita hitung berapa banyak jadi konsepnya bukan tunggal. Tapi Bauran dari anggaran kita,” ujarnya.

BPJS tidak serta merta langsung mengharapkan talangan dari pajak cukai rokok, karena perpresnya baru diterbitkan. Fachmi mengungkapkan, pajak rokok diketahui 10 persen dari total uang cukai se-Indonesia sebesar Rp 14 triliun.

“Di situ memang ada regulasinya 50 persen untuk kesehatan, artinya Rp 7 trilun. RP 7 trilium ini pun 75 persennya untuk JKN. Dari 75 persen ini kita lihat dulu apakah bupati wali kota sudah menggunakan atau tidak,” paparnya.

“Untuk program yang berhubungan dengan JKN misal Jamkesdanya didaftar dalam program menggunakan uang itu atau tidak. Ada yang sudah menggunakan full. artinya tidak mungkin lagi menggunakan itu. ada yang belum menggunakan, itu bisa digunakan,” lanjutnya.

Ada juga program JKN yang Jamkesdanya separuh telah menggunakan uang. “Kita hitung semua untuk fill in the gap itu. Jadi ada gap yang harus kita isi untuk menyelesaikan itu. Perkembangannya seperti itu, sekarang kita sedang mendata itu, potensinya belum kita ketahui pasti sampai itu selesai,” tuturnya.

(up/up)